Karet dan Madu Kelulut: Denyut Ekonomi Warga Kecamatan Marabahan, Barito Kuala
Karet dan madu kelulut jadi denyut ekonomi warga Kecamatan Marabahan, Barito Kuala, kota tepi Sungai Barito 48 km utara Banjarmasin.

Sorotan Utama
- Marabahan adalah ibu kota Kabupaten Barito Kuala, pusat pemerintahan dan perekonomian, terletak di tepi Sungai Barito dan muara Sungai Bahan.
- Jarak Marabahan sekitar 48 km sebelah utara Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.
- Karet menjadi komoditas kebun utama yang menyokong penghasilan harian banyak keluarga petani di sekitar Marabahan.
- Madu kelulut dari lebah tanpa sengat Trigona dikembangkan warga sebagai sumber penghasilan tambahan bernilai jual lebih tinggi.
- Sungai Barito dan Sungai Bahan membentuk pola hidup, transportasi, dan perdagangan warga Kecamatan Marabahan.
Pagi di Tepi Muara Bahan
Kabut tipis masih menempel di permukaan Sungai Barito ketika sepeda motor bermuatan getah karet melintas menuju pengepul di sekitar pusat kota Marabahan. Jarum jam belum menunjukkan pukul tujuh, tetapi aktivitas di kota yang berjarak sekitar 48 kilometer sebelah utara Banjarmasin ini sudah bergerak. Marabahan, ibu kota Kabupaten Barito Kuala, memang tumbuh dari dua denyut yang saling melengkapi: sungai dan kebun.
Sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian Barito Kuala, Marabahan menjadi tempat orang dari desa-desa sekitar berkumpul. Ada yang mengantar getah, ada yang membeli kebutuhan harian, ada pula yang sekadar singgah di warung tepi jalan menikmati kopi dan pisang goreng sebelum melanjutkan perjalanan. Kota ini berdiri di tepi Sungai Barito, tepat di muara Sungai Bahan, posisi yang sejak lama menjadikannya simpul perdagangan warga pesisir sungai.
Karet, Penopang yang Tak Pernah Tidur
Bagi banyak keluarga di Kecamatan Marabahan, karet bukan sekadar tanaman. Ia adalah sumber penghasilan yang menopang biaya sekolah anak, belanja dapur, dan kebutuhan mendesak lain. Penyadapan getah dilakukan pagi buta, saat suhu masih dingin dan getah mengalir lancar. Hasilnya kemudian dibawa ke pengepul atau dijual ke pedagang yang datang dari arah Banjarmasin.
Harga karet di tingkat petani memang naik turun mengikuti pasar. Karena itu, warga belajar tidak bergantung pada satu sumber saja. Beberapa petani mulai menanam tanaman lain di sela kebun karet, memelihara ternak kecil, atau memanfaatkan pekarangan untuk tanaman pangan. Pola ini menjaga dapur tetap mengepul meski harga getah sedang lesu.
Hidup di tepi sungai memberi keuntungan tersendiri. Transportasi air masih dipakai sebagian warga untuk mengangkut hasil kebun, terutama dari kampung-kampung yang jalannya belum sepenuhnya mulus. Sungai Barito dan Sungai Bahan bukan hanya pemandangan, tetapi jalan raya alami yang menghubungkan Marabahan dengan wilayah lain di Barito Kuala.
Madu Kelulut, Manis dari Pekarangan
Beberapa tahun terakhir, madu kelulut mulai dikenal lebih luas di Kalimantan Selatan. Lebah tanpa sengat dari kelompok Trigona ini dipelihara dalam kotak kayu sederhana, diletakkan di bawah pohon atau di pekarangan rumah. Di Marabahan, usaha ini tumbuh perlahan, digerakkan warga yang ingin menambah penghasilan tanpa harus membuka lahan baru.
Madu kelulut punya rasa asam-manis yang khas dan dipandang punya nilai jual lebih tinggi dibanding madu biasa. Harganya di pasaran lokal relatif terjangkau untuk ukuran madu premium, tetapi tetap memberi keuntungan bagi peternak kecil. Permintaan datang dari tetangga, pedagang di pasar, hingga pembeli dari Banjarmasin yang mencari oleh-oleh khas Barito Kuala.
Memelihara kelulut tidak butuh lahan luas. Cukup satu sudut pekarangan yang teduh dan dekat sumber pakan bunga. Karena itu, usaha ini cocok bagi keluarga yang tetap bekerja di kebun karet. Pagi menyadap getah, sore memeriksa sarang kelulut. Dua pekerjaan, satu halaman rumah.
Denyut yang Saling Menguatkan
Karet dan madu kelulut bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya bertemu di dapur dan di pasar Marabahan. Getah karet memberi penghasilan rutin yang bisa dihitung mingguan, sementara madu kelulut memberi tambahan musiman yang nilainya lebih tinggi per satuan. Kombinasi ini membuat ekonomi rumah tangga lebih tahan terhadap gejolak harga.
Yang membuat Marabahan istimewa bukan gedung atau monumen, melainkan cara warganya bertahan. Mereka memanfaatkan apa yang ada: sungai, tanah, dan pekarangan. Pusat pemerintahan kabupaten menjadi tempat mengurus dokumen dan mengadu nasib, sementara kebun dan sarang kelulut menjadi sumber kehidupan sehari-hari.
Bagi siapa pun yang melintas dari Banjarmasin menuju utara, Marabahan adalah tempat berhenti sejenak. Di warung-warungnya, madu kelulut dijual dalam botol kecil. Di pinggir jalannya, getah karet menunggu diangkut. Dua barang sederhana itu bercerita tentang satu hal yang sama: warga Kecamatan Marabahan tidak pernah berhenti bekerja.
Tonton Video
Tanya Jawab Singkat
Di mana letak Kecamatan Marabahan?
Marabahan terletak di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan, di tepi Sungai Barito dan muara Sungai Bahan, sekitar 48 km sebelah utara Kota Banjarmasin.
Apa komoditas utama warga Marabahan?
Karet menjadi komoditas kebun utama yang menopang penghasilan harian banyak keluarga petani di sekitar Marabahan.
Apa itu madu kelulut?
Madu kelulut adalah madu yang dihasilkan lebah tanpa sengat dari kelompok Trigona. Di Marabahan, usaha ini dikembangkan warga sebagai penghasilan tambahan.
Mengapa sungai penting bagi Marabahan?
Sungai Barito dan Sungai Bahan menjadi jalur transportasi dan perdagangan warga, sekaligus membentuk pola hidup masyarakat tepi sungai di Barito Kuala.