MPesona Marabahan
Festival Budaya Banjar Marabahan & Tradisi Baayun Maulid

Baayun Maulid dan Budaya Banjar di Marabahan: Tradisi Warga Kota Tepi Barito

Baayun Maulid di Marabahan, Barito Kuala, hidup di kota tepi Sungai Barito. Tradisi ayunan bayi saat Maulid Nabi jadi ruang kumpul warga Banjar.

Baayun Maulid dan Budaya Banjar di Marabahan: Tradisi Warga Kota Tepi Barito

Sorotan Utama

  • Marabahan adalah ibu kota Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito dan muara Sungai Bahan.
  • Marabahan berjarak 48 km di utara Kota Banjarmasin dan menjadi pusat pemerintahan serta perekonomian Barito Kuala.
  • Baayun Maulid adalah tradisi Banjar mengayun bayi sambil membaca syair maulid, biasanya digelar saat peringatan Maulid Nabi.
  • Pelaksanaan umumnya di masjid, langgar, atau halaman rumah warga, diiringi rebana dan pembacaan syair.
  • Warga Marabahan mempertahankan tradisi ini sebagai bagian identitas budaya Banjar di kota tepi sungai.

Ayunan di Tepi Barito

Pagi di Marabahan sering dimulai dari suara perahu klotok yang menyeberangi Sungai Barito. Di balik itu, saat Maulid Nabi tiba, halaman masjid dan langgar di kota ini berubah jadi tempat ramai. Ibu-ibu membawa bayi dalam ayunan kain, dihias warna cerah. Anak-anak berlari sambil memegang rebana. Bau kue tradisional dari dapur rumah warga menyeruak. Itulah Baayun Maulid, tradisi Banjar yang masih dijaga warga Marabahan.

Marabahan sendiri adalah ibu kota Kabupaten Barito Kuala, sekaligus pusat pemerintahan dan perekonomian daerah ini. Kota ini terletak di tepi Sungai Barito dan muara Sungai Bahan, berjarak 48 km di utara Kota Banjarmasin. Posisi di tepi sungai membuat denyut kehidupan warganya lekat dengan air: pasar, dermaga, dan permukiman tumbuh mengikuti aliran sungai. Di kota kecil ini, Baayun Maulid bukan pertunjukan wisata, melainkan bagian dari ritme tahunan warga.

Apa Itu Baayun Maulid

Baayun Maulid adalah tradisi mengayun bayi atau anak kecil sambil melantunkan syair maulid, biasanya digelar saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam masyarakat Banjar, kegiatan ini jadi cara bersyukur sekaligus memohon keberkahan untuk anak. Ayunan dihias kain, kadang dilengkapi bunga dan janur. Orang tua duduk di dekat ayunan, sementara pembaca syair memimpin lantunan.

Pelaksanaannya umumnya di masjid, langgar, atau halaman rumah warga. Rebana mengiringi syair. Suasana tidak kaku; anak-anak bermain di sekeliling, tetangga datang membantu. Di Marabahan, tradisi ini menyatu dengan kehidupan kota tepi sungai yang masih kental nilai keagamaan dan kekeluargaan. Bagi warga, Baayun Maulid bukan sekadar acara, tapi ruang bertemu antar tetangga dan kerabat.

Budaya Banjar di Kota Tepi Sungai

Marabahan adalah kota Banjar. Bahasa sehari-hari, adat, dan kuliner warga mencerminkan budaya Banjar yang hidup di sepanjang Sungai Barito. Tradisi seperti Baayun Maulid bertahan karena dirawat dari generasi ke generasi, bukan karena dikelola lembaga besar. Pelaksanaannya bergantung pada kesepakatan warga, kemampuan masjid, dan waktu luang keluarga.

Sebagai pusat pemerintahan Barito Kuala, Marabahan punya aktivitas ekonomi yang ramai di pasar dan sekitar dermaga. Namun di sela itu, kegiatan keagamaan dan budaya tetap jadi pengikat sosial. Anak-anak yang ikut Baayun Maulid tumbuh mengenal syair, rebana, dan gotong royong. Tradisi ini jadi cara kota tepi sungai menjaga identitas Banjar di tengah perubahan zaman.

Menjaga Tradisi di Era 2025

Memasuki 2025, tantangan merawat tradisi tetap ada. Banyak warga muda merantau ke Banjarmasin atau luar Kalimantan untuk bekerja. Waktu berkumpul jadi terbatas. Meski begitu, saat Maulid tiba, banyak yang pulang atau setidaknya mengirim bantuan untuk keluarga yang menggelar Baayun Maulid.

Biaya pelaksanaan relatif terjangkau karena ditanggung bersama warga. Tidak ada tiket atau paket wisata; siapa pun yang datang biasanya diterima. Yang dibutuhkan terutama tenaga, kain ayunan, dan kesediaan melantunkan syair. Di Marabahan, semangat itu masih terasa. Sepanjang Sungai Barito, ayunan bayi dan lantunan syair tetap jadi tanda bahwa budaya Banjar tidak hanya diarsipkan, tapi dihidupi.

Tanya Jawab Singkat

Apa itu Baayun Maulid?

Tradisi Banjar mengayun bayi sambil melantunkan syair maulid, biasanya saat peringatan Maulid Nabi.

Di mana Baayun Maulid di Marabahan digelar?

Umumnya di masjid, langgar, atau halaman rumah warga, diiringi rebana dan pembacaan syair.

Di mana letak Marabahan?

Marabahan adalah ibu kota Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, di tepi Sungai Barito dan muara Sungai Bahan, 48 km utara Banjarmasin.

Apakah Baayun Maulid terbuka untuk umum?

Biasanya terbuka. Warga sekitar dan tamu yang datang umumnya diterima tanpa tiket.