Hidup di Muara Sungai Bahan: Budaya Sungai Warga Marabahan di Tepi Barito
Warga Marabahan hidup bersama Sungai Barito dan muara Sungai Bahan. Budaya sungai membentuk cara kerja, dagang, dan berkumpul tiap hari.
Sorotan Utama
- Marabahan adalah ibu kota Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan
- Terletak di tepi Sungai Barito dan di muara Sungai Bahan
- Berjarak 48 km sebelah utara Kota Banjarmasin
- Menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian Barito Kuala
- Sungai menjadi urat nadi transportasi, dagang, dan kehidupan harian warga
Muara yang Menjadi Kota
Dari atas perahu kayu yang menyeberang dari sisi timur, Kota Marabahan tampak sebagai garis rumah panggung yang rapat di tepi Sungai Barito. Persis di depan, mulut Sungai Bahan membelah daratan, memisahkan kawasan pasar dari permukiman yang lebih dalam. Di sinilah warga menyebut kampungnya: Muara Bahan.
Marabahan adalah ibu kota Kabupaten Barito Kuala, sekaligus pusat pemerintahan dan perekonomian wilayah ini. Jaraknya sekitar 48 kilometer ke utara dari Kota Banjarmasin. Bagi warga yang biasa menempuh jalur darat lewat jalan provinsi, perjalanan itu terasa dekat. Bagi yang memilih kapal, Sungai Barito tetap jalur lama yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Posisi di muara menjadikan Marabahan titik temu. Sungai Bahan membawa air dari pedalaman Barito Kuala, sementara Barito membawa denyut dari hilir dan hulu. Di pertemuan dua aliran itu, kota kecil ini tumbuh sebagai tempat orang berhenti, membeli, menjual, dan pulang.
Sungai sebagai Ruang Kerja
Pagi di Marabahan dimulai dari tepian. Perahu-perahu kecil melintas membawa sayur, ikan, dan hasil kebun dari kampung-kampung sekitar. Sebagian pedagang memilih berjualan di pasar darat, sebagian lagi tetap setia pada cara lama: menjajakan barang di atas perahu atau di dermaga kayu yang menjorok ke sungai.
Bagi warga, sungai bukan latar belakang. Ia ruang kerja. Nelayan menebar jala di sela arus, tukang perahu memperbaiki lambung kayu di bantaran, dan ibu-ibu mencuci serta memasak dengan air yang sama yang mengalir di depan rumah. Anak-anak belajar berenang di air keruh itu sebelum mereka belajar jauh dari sungai.
Transportasi air masih relevan. Menyeberang ke seberang Barito, menuju kampung tetangga, atau mengangkut barang dagangan kerap lebih cepat lewat sungai. Ketika air pasang, perahu bisa merapat hampir ke tangga rumah. Ketika surut, warga menuruni lumpur dan batu untuk mencapai air. Irama pasang-surut itulah jam alami kota ini.
Budaya yang Tumbuh di Tepi Air
Budaya sungai Marabahan terlihat dari hal-hal kecil. Rumah panggung menghadap air, dengan tangga kayu yang selalu basah. Dapur di bagian belakang dibuka ke sungai, tempat orang membuang air cucian dan mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Warung kopi di dekat dermaga menjadi tempat bertukar kabar: harga ikan, kondisi air, jadwal kapal, dan siapa yang sedang ke Banjarmasin.
Hidup di tepi Barito juga berarti hidup dengan risiko. Musim hujan bisa menaikkan muka air, dan warga yang tinggal paling dekat tepian tahu kapan harus mengangkat barang ke lantai yang lebih tinggi. Sebaliknya, musim kemarau membuat air surut dan sebagian jalur perahu dangkal. Adaptasi ini berlangsung turun-temurun tanpa perlu banyak dibicarakan.
Di sisi lain, sungai menyatukan. Kerja bakti membersihkan dermaga, memperbaiki titian kayu, atau menyambut tamu yang datang lewat air adalah kegiatan yang mengikat tetangga. Bagi warga Marabahan, sungai bukan pemisah, melainkan jalan yang menghubungkan rumah-rumah di sepanjang tepian.
Menjelang sore, cahaya jatuh di permukaan Barito dan muara Bahan. Perahu-perahu pulang membawa hasil. Kota kecil ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menunggu air berubah, lalu kembali bekerja seperti hari-hari sebelumnya.
Tonton Video
Tanya Jawab Singkat
Di mana letak Kota Marabahan?
Marabahan terletak di tepi Sungai Barito dan di muara Sungai Bahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, sekitar 48 km sebelah utara Kota Banjarmasin.
Apa peran Sungai Barito bagi warga Marabahan?
Sungai Barito menjadi urat nadi transportasi, sumber penghidupan nelayan dan pedagang, serta ruang sosial tempat warga berkumpul dan beraktivitas sehari-hari.
Apakah Marabahan ibu kota Kabupaten Barito Kuala?
Ya. Marabahan adalah ibu kota sekaligus pusat pemerintahan dan perekonomian Kabupaten Barito Kuala.
Bagaimana warga Marabahan beradaptasi dengan pasang-surut sungai?
Warga menyesuaikan aktivitas dengan irama pasang-surut: merapatkan perahu saat air tinggi, menuruni bantaran saat surut, dan mengangkat barang ke tempat lebih tinggi ketika air naik.